Untuk mendapatkan gambaran komprehensif tentang kondisi finansial penyelenggara jaringan bergerak seluler (jabersel), dilakukan analisa performa keuangan terhadap 4 (empat) penyelenggara yang beroperasi di 2024. Referensi dari analisa ini didapatkan dari annual report dan info memo (laporan triwulan) yang dipublikasi melalui website resmi masing-masing penyelenggara jabersel. Beberapa parameter yang disajikan adalah pengolahan dari laporan yang dipublikasikan masing-masing penyelenggara dalam website resmi.
Di Tahun 2024, Industri seluler melalui penyelenggara jaringan bergerak seluler menghasilkan revenue yang berkontribusi 69,7% terhadap revenue total keseluruhan industri telekomunikasi.
Ini menunjukkan empat penyelenggara jaringan bergerak seluler ini memegang peran cukup dominan dalam memotret kondisi industri telekomunikasi secara umum. Untuk itu dilakukan perhitungan performa keuangan dari masing-masing penyelenggara jaringan bergerak seluler. Secara garis besar, keempat perusahaan mengalami peningkatan pendapatan dibandingkan dengan tahun sebelumnya, dengan tingkat kenaikan yang berbeda. Hal ini ditunjukkan bahwa secara rata-rata, terdapat kenaikan revenue sebesar 4.366 M (4,37 triliun) dibandingkan tahun sebelumnya atau tumbuh sekitar 8,9%
Pada tahun 2024, rata-rata biaya operasional (operating cost) penyelenggara jaringan bergerak seluler meningkat menjadi Rp28,72 triliun dari Rp25,13 triliun pada 2023, atau tumbuh sekitar 14,27%.
Net income ratio dapat menunjukkan seberapa efektif perusahaan dalam menghasilkan laba setelah dikurang seluruh biaya. Semakin tinggi hasil rasio ini, semakin besar keuntungan yang dihasilkan perusahaan serta efisiensi beban operasional perusahaan yang baik. Secara rata-rata, net income ratio keseluruhan di tahun 2018 memiliki rasio negatif, menunjukan industry mengalami kerugian besar pada tahun tersebut, namun terjadi pemulihan di tahun 2019 dimana rasio berhasil naik, kemudian mengalami penurunan kembali dari tahun 2021 sampai 2024.
Net income dapat menunjukan jumlah uang tunai yang benar-benar tersisa dari seluruh aktivitas operasional perusahaan. Secara angka riil, industri masih mencatatkan laba yang cukup besar, net income terlihat naik/stabil dari tahun 2022-2024, sedangkan net income ratio mengalami penurunan dari 2022-2024, menunjukan bahwa pendapatan perusahaan mengalami pertumbuhan tetapi biaya tumbuh jauh lebih tinggi. Perusahaan menghasilkan lebih banyak pendapatan secara total tetapi sisa uang lebih sedikit karena besarnya biaya operasional.
Pada 2024, keempat perusahaan mengalami peningkatan EBITDA sebesar 780 Milyar Rupiah atau setara 3,2% dibandingkan 2023. Peningkatan EBITDA secara konsisten antara lain menunjukkan pertumbuhan pendapatan yang sehat dan peningkatan efisiensi operasional.
Ada empat perhitungan ratio keuangan yang dapat digunakan untuk menghitung ratio likuiditas suatu perusahaan, diantaranya adalah ratio lancar (current ratio), rasio cepat (quick ratio), rasio kas (cash ratio), dan rasio perputaran kas (cash turnover ratio).
Secara rata-rata, nilai cash ratio dari penyelenggara jaringan bergerak seluler masih dibawah nilai standar industri (0,5). Ini mengindikasikan rata-rata perusahaan memiliki keterbatasan likuiditas kas dan sangat bergantung pada pencairan piutang untuk melunasi kewajiban jangka pendeknya
Trend cash turnover ratio secara rata-rata menunjukan peningkatan yang konsisten. Hal ini mengindikasikan efisiensi yang semakin tinggi dalam penggunaan modal kerja, dima kas berputar lebih cepat untuk menghasilkan pendapatan
Secara garis besar, rata-rata penyelenggara jaringan bergerak seluler mencatatkan current ratio dan quick ratio di angka masing-masing 0,52 dan 0,51. Nilai kedua rasio tersebut menunjukan bahwa persediaan tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap likuiditas perusahaan di sektor ini.